Salam Pramuka! Selamat datang di Blog Gerakan Pramuka GUDEP 11.173 -11.174 Pangkalan SMK N 1 Batang, Jl Ki Mangunsarkoro No.2 Dracik, Batang, Jawa Tengah ->http://dikari-scout.blogspot.com<- Semoga Bermanfaat!

(Berkreasi) Manipulasi Foto

Bagikan


Woaahh..!, Kak Yoga jadi Raksasa!!!
Baca Selengkapnya...

Membangun Kepemimpinan

Bagikan

Jiwa kepemimpinan anak terbentuk karena mengamati apa yang didekatnya setiap hari. Pepatah mengatakan setiap anak dilahirkan sebagai pemimpin. Ini bukanlah isapan jempol belaka, asalkan anak diberi kesempatan untuk membuktikannya. Menurut Ir Buchori Nasution, pendidik dan Presiden Direktur Indonesian Education Management Institute (IEMI), kepemimpinan (leadership) merupakan suatu perilaku yang dapat dipelajari oleh setiap orang melalui pembelajaran lalu mengamalkannya. ‘’Setiap anak bisa menjadi pemimpin bila disertai kemampuan dan keterampilan memimpin untuk menjadi seorang pemimpin,’’ katanya.

Menempatkan diri dalam situasi yang sangat membutuhkan tindakan dari pemimpin merupakan cara terbaik untuk belajar memupuk jiwa kepemimpinan. “Pemimpin adalah seorang yang berusaha menolong orang lain, mengembangkan keterampilannya, dan mau berbagi ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain,” kata Buchori.Buchori mengatakan, sebenarnya secara alami setiap anak memiliki jiwa kepemimpinan, namun pola asuh orangtua sangat mempengaruhi perkembangannya. ‘’Sebelum menjadi seorang pemimpin anak haruslah mengeksplorasi dirinya sendiri. Dengan mengenali dirinya sendiri anak akan mudah membentuk konsep diri,’’ paparnya. Misalnya, ajak anak mengisi jawaban dari pertanyaan apa yang saya ingin lakukan?, siapa saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk menjadikan dunia lebih baik?’ Menurut Manajer Pendidikan Fakultas Psikologi UI, Dr Tjut Rifameutia MA Psi, orang yang memiliki jiwa kepemimpinan umumnya mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri terlebih dulu sebelum memimpin orang lain atau suatu kelompok. Selain itu juga mampu memberi contoh dan menunjukkan karakter pemimpin. Secara umum, seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan mampu menstimulasi dan memotivasi orang lain agar tergerak untuk melakukan instruksi atau tugas yang diembannya. “Seorang pemimpin di atas kertas belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan yang ideal, sebaliknya ada juga yang bukan seorang pemimpin namun memiliki jiwa kepemimpinan (leader characters),” katanya. Sedangkan untuk anak-anak, lanjut psikolog yang akrab disapa Tia ini, jiwa kepemimpinan haruslah diolah dengan baik. Cermati apakah anak memiliki self initiative atau tidak? Apakah anak mampu berpikir dan memutuskan sendiri. Ketika berada dalam suatu kelompok. Apakah anak bisa berinteraksi dan bekerjasama
dengan teman-temannya atau tetangga. “Sebelum bisa memberi tujuan atau arahan bagi orang lain, anak harus memiliki self initiative terlebih dulu,” katanya.Pengaruh pola asuh
Jiwa kepemimpinan anak dipengaruhi oleh faktor bakat dan pola pengasuhan orangtua. Sejak dini anak sudah melihat pola tingkah laku orangtuanya. Tinggal bagaimana orangtua mencontohkan nilai-nilai kepemimpinan itu. “Sebenarnya jiwa kepemimpinan anak terbentuk karena mengamati apa yang ada didekatnya setiap hari, jadi tergantung bagaimana orangtua membentuk atmosfernya,” kata Tia.Arfi Destianti, Principal Semut-Semut The Natural School, salah satu sekolah yang memiliki mata pelajaran
kepemimpinan ini mengatakan, pengajaran kepemimpinan lebih mengajarkan anak memecahkan masalah melalui diskusi mulai dari permasalahan sederhana yang ada di sekitar anak, seperti persoalan sampah. Anak diminta berdiskusi bagaimana cara mengelola sampah yang baik. Melalui diskusi anak belajar menerima dan mengenal pemikiran orang lain yang berbeda dengannya serta mampu memutuskan jalan keluar yang menurutnya terbaik. “Jadi yang bisa dikatakan seorang pemimpin tak hanya memimpin barisan atau menjadi ketua suatu perkumpulan, namun dilihat dari kemampuannya memimpin dan mengatur,” papar Arfi. Arfi menambahkan, memberikan anak kesempatan untuk menunjukkan kemampuan diri dan bertanggung jawab pada jalan pilihannya sangat penting untuk mengembangkan potensi jiwa kepemimpinannya. “Sebaiknya dalam pengajaran di sekolah juga diisi oleh nilai-nilai yang menuntunnya menjadi seorang pemimpin baik dari dimensi ketuhanan maupun kemanusiaanya, seperti bersikap terbuka, toleran, menolong sesama, mampu membuat keputusan, berlapang dada, dan membedakan mana yang benar dan salah, dan sebagainya,’’ paparnya. Tak hanya diajarkan secara teori, sambung Arfi, tapi anak juga diajar praktik mengenal dan menerima perbedaan, seperti warna kulit, asal suku, beda agama, dan lainnya. “Mulai dari sini anak bisa berkembang ke arah yang lebih kompleks, misalnya menerima jalan pemikiran orang lain, namun anak tetap mampu menentukan sikapnya,” katanya. Berdasarkan pengamatan Arfi, umumnya jiwa kepemimpinan anak bisa terlihat ketika dia berada dalam kelompok. Di dalam komunitas anak tengah belajar mengenai organisasi, tanpa disadari anak akan menunjuk ketua yang mereka anggap mampu memimpin dan mengkoordinasikan tugas. Anak yang memiliki jiwa pemimpin umumnya memiliki kecerdasan berkomunikasi secara verbal. Artinya, berani berpendapat atau mengeluarkan apa yang dipikirkannya. “Anak ini juga mengayomi teman-temannya dengan menerima segala pendapat, namun sebenarnya dia mengolah pendapat tersebut dan sudah tahu jalan apa yang akan diambil,” katanya. Role play
Tia mengatakan, kepemimpinan lebih pada aksi (action) biasanya melalui role play atau memberi contoh. Tumbuhkanlah dialog dengan anak, sehingga dia berani mengemukakan ekspresi dan pendapatnya. Berikan kesempatan anak untuk memilih dengan memberikan beberapa pilihan, misalnya adik mau memakai baju yang warna putih, merah atau hijau? Serta bertanggung jawab pada pilihan tersebut. Kemudian tanyakan pendapatnya akan suatu hal, misalnya anak diikutkan les menari, namun anak keberatan coba tanyakan sebabnya dan pilihan minatnya atau bahas mengenai masalah-masalah sosial.Buchori menambahkan, sebaiknya anak juga diberikan beragam pengalaman dan mencoba segala hal. Kendati hal tersebut awalnya akan merugikan anak, namun anak bisa belajar dari kesalahannya sehingga mampu berpikir mandiri apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Misalnya, saat usia 2-3 tahun anak diminta meletakkan sepatu dengan rapi. Jika anak tidak mengikuti anjuran Anda jangan langsung marah, biarkan saja. Ketika terjadi kejadian sepatu hilang, maka anak akan tahu akibat dari kurangnya mengatur diri. “Suatu hari nanti anak akan belajar membuat keputusan untuk orang lain dan mempertanggungjawabkannya,” ujarnya.Untuk menilai apakah anak memiliki jiwa kepemimpinan atau tidak, Anda bisa mengundang beberapa temannya atau libatkan anak di suatu organisasi sekolah. Kemudian amati perilakunya ketika anak mengatur perencanaan, misalnya mengajak dan mengkoordinasikan teman-temannya menyumbang dana untuk anak yatim piatu. Anak juga mampu melihat potensi teman-temannya sebelum mendelegasikan tugas. Selain berdasarkan pengamatan Anda sendiri diperlukan juga pendapat lain dari pendidiknya seperti guru di sekolah atau tempat les. “Selain anak memiliki jiwa kepemimpinan sebaiknya juga dibekali dengan pengetahuan yang kaya,” kata Tia.

Tia mengatakan, manfaat jiwa kepemimpinan akan terus dirasakan sepanjang hidup anak. Misalnya, kemampuan anak menilai tindakan yang baik dan buruk atau mengetahui prioritas hidupnya. Jiwa kepemimpinan termasuk dalam keterampilan hidup yang berperan pada kemampuan sosial (social skill) anak.

Inspiredkidsmagazine
Baca Selengkapnya...

Bhakti Sosial Penanaman 1000 Pohon

Bagikan

Minggu, 28 Maret 2010, sebagai wujud peduli dan rasa cinta terhadap alam Gerakan Pramuka SMK N 1 Batang yang dibantu oleh IKADADIKARI dan kerjasama dengan Organisasi Omah Tani Kabupaten Batang melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Penanaman 1000 Pohon di desa Tumbreb Kec. Bandar Kab Batang, kegiatan ini dimulai dengan pengarahan dari Bapak Suyitno pengurus Organisasi Omah Tani tentang berbagai teknik penanaman bibit yang baik dan perawatanya, setelah itukegiatan ini dibuka oleh Pembina Pramuka SMK Negeri 1 Batang, kak Indriyo Raharjo, S.Pd secara simbolis dengan menyerahan bibit pohon sengon kepada Bapak Tahroni Ketua Organisasi Omah Tani dengan disaksikan oleh para petani dan para peserta kegiatan tersebut, setelah dibuka secara resmi barulah para peserta beramai-ramai melakukan penanaman bibit di lahan yang telah disediakan, antusiasme napak sekali dari para peserta dalam mengikuti kegiatan ini, selain sengon dalam kegiatan ini para peserta juga menanam bibit pohon durian, pisang, mangga, rambutan dan pohon buah lainya. Setelah selesai kegiatan penanaman tentu para peserta tidak langsung dipulangkan begitu saja, dalam salah satu rangkaian dari kegiatan tersebut para peserta mengikuti acara ramah tamah yang dilaksanakan di Base Camp Omah Tani dengan diawali sambutan dari Kak Rohman Yusuf Ketua penyelenggara kegiatan ini, Kak Yusuf mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud baru dari kegiatan bakti sosial yang biasanya dilaksanakan di yayasan-yayasan dalam bentuk melaksanakan kebersihan dan penyerahan bingkisan, dengan kegiatan yang baru ini diharapkan kegiatan-kegiatan Pramuka di SMK dapat terus berkembang sehingga tidak bosan dengan kegiatan tahunan yang biasa dilaksanakan. Setelah itu dilanjutkan sambutan dari kak Indriyo selaku Pembina, dalam sambutanya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kesungguhan anggota garakan pramuka dalam mencintai alam dan lingkungan hidup serta wujud kepedulian terhadap kelestarian alam untuk masa yang akan datang, selain itu kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pendidikan dan pengalaman bagi anggota pramuka untuk belajar menanam, mencintai lingkungan dan menghargai jerih payah para petani, dalam sambutan ini Bapak Suyitno dan Bapak Tahroni juga menyampaikan banyak sekali hal tentang tanaman dan Petani yang sangat bermanfaat sekali untuk para Anggota Pramuka, jerih payah para petani yang selalu ditekan dengan ketidakadilan sehingga sulit untuk hidup layak harusnya menjadi pelajaran bagi para generasi muda untuk dapat mengargai dan mencintai alam serta menjaga kelestariannya demi kehidupan yang akan datang. Kegiatan ini diakhiri dengan pembuatan laporan oleh para peserta dan kembali ke pangkalan.
Tulisan Terkait: http://ikada-dikari.blogspot.com/2010/03/go-green-program-bhakti-sosial-gerpram.html

Tautan: Omah Tani Batang Tuntut Reformasi Agraria


Baca Selengkapnya...

Robert Baden Powell

Bagikan


Robert Stephenson Smyth Baden-Powell,lahir di Paddington, London, Inggris, 22 Februari 1857 – meninggal di Nyeri, Kenya, 8 Januari 1941 pada umur 83 tahun) ialah tentara, penulis dan pendiri gerakan kepanduan dunia.

Kehidupan awal

Baden-Powell dilahirkan di Paddington, London pada 1857. Dia adalah anak ke-6 dari 8 anak profesor Savilian yang mengajar geometri di Oxford. Ayahnya, pendeta Harry Baden-Powell, meninggal ketika dia berusia 3 tahun, dan ia dibesarkan oleh ibunya, Henrietta Grace smith, seorang wanita yang berketetapan bahwa anak-anaknya harus berhasil. Baden-Powell berkata tentang ibunya pada 1933, "Rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya."

Selepas menghadiri Rose Hill School, Tunbridge Wells, Baden-Powell dianugerahi beasiswa untuk sekolah umum Charterhouse. Perkenalannya kepada kemahiran pramuka adalah memburu dan memasak hewan - dan menghindari guru - di hutan yang berdekatan, yang juga merupakan kawasan terlarang. Dia juga bermain piano dan biola, mampu melukis dengan baik dengan menggunakan kedua belah tangan dengan tangkas, dan gemar bermain drama. Masa liburan dihabiskan dengan ekspedisi belayar atau berkanu dengan saudara-saudaranya.

Dia mengarang beberapa buku, diantaranya yakni, jungle book, girl guides, scouiting for boys,aids to scouting, rovering to succes

Karir Ketentaraan

Pada tahun 1876, Baden-Powell bergabung dengan 13th Hussars di India. Pada tahun 1895 dia bertugas dengan dinas khusus di Afrika dan pulang ke India pada tahun 1897 untuk memimpin 5th Dragoon Guards.

Baden-Powell saling berlatih dan mengasah kemahiran kepanduannya dengan suku Zulu pada awal 1880-an di jajahan Natal Afrika Selatan di mana resimennya ditempatkan dan ia diberi penghargaan karena keberaniannya.ada 3 penghargaan yang diberi angkatan perang zulu yaitu:

* impressa: serigala yang tak pernah tidur. karena dia sering berjaga-jaga saat malam
* kantankye:orang pemakai topi lebar. karena dia selalu memaai topi lebar
* m'hlalapanzi:orang bertiarap yang siap menembak.

Kemahirannya mengagumkan dan dia kemudian dipindahkan ke dinas rahasia Inggris. Dia sering bertugas dengan menyamar sebagai pengumpul kupu-kupu, memasukkan rancangan instalasi militer ke dalam lukisan-lukisan sayap kupu-kupunya.

Baden-Powell kemudian ditempatkan di dinas rahasia selama 3 tahun di daerah Mediterania yang berbasis di Malta. Dia kemudian memimpin gerakan ketentaraannya yang berhasil di Ashanti, Afrika, dan pada usia 40 dipromosikan untuk memimpin 5th Dragoon Guards pada tahun 1897. Beberapa tahun kemudian, dia menulis buku panduan ringkas bertajuk "Aids to Scouting", ringkasan ceramah yang dia berikan mengenai peninjau ketentaraan, untuk membantu melatih perekrutan tentara baru. Menggunakan buku ini dan kaidah lain, ia melatih mereka untuk berpikir sendiri, menggunakan daya usaha sendiri, dan untuk bertahan hidup dalam hutan.

Baden-Powell kembali ke Afrika Selatan sebelum Perang Boer dan terlibat dalam beberapa tindakan melawan Zulu. Dinaikkan pangkatnya pada masa Perang Boer menjadi kolonel termuda dalam dinas ketentaraan Britania, dia bertanggung jawab untuk organisasi pasukan perintis yang membantu tentara biasa. Ketika merencanakan hal ini, dia terperangkap dalam pengepungan Mafeking, dan dikelilingi oleh tentara Boer yang melebihi 8.000 orang. Walaupun berjumlah lebih kecil, garnisun itu berhasil bertahan dalam pengepungan selama 217 hari. Sebagian besar keberhasilan itu dikatakan sebagai hasil beberapa muslihat yang dilaksanakan atas perintah Baden-Powell sebagai komandan garnisun. Ranjau-ranjau palsu ditanam, dan tentaranya diperintah untuk menghindari pagar kawat olok-olok (tidak ada) saat bergerak antara parit kubu.

Baden-Powell melaksanakan kebanyakan kerja peninjauan secara pribadi dan membina pasukan kanak-kanak asli untuk berjaga dan membawa pesan-pesan, kadang menembus pertahanan lawan. Banyak dari anak-anak ini kehilangan nyawanya dalam melaksanakan tugas. Baden-Powell amat kagum dengan keberanian mereka dan kesungguhan mereka yang ditunjukkan ketika melaksanakan tugas. Pengepungan itu dibubarkan oleh Pembebasan Mafeking pada 16 Mei 1900. Naik pangkat sebagai Mayor Jendral, Baden-Powell menjadi pahlawan nasional.

Setelah mengurusi pasukan polisi Afrika Selatan Baden-Powell kembali ke Inggris untuk bertugas sebagai Inspektur Jendral pasukan berkuda pada tahun 1903.

Pulang ke Inggris

Setelah kembali, Baden-Powell mendapati buku panduan ketentaraannya "Aids to Scouting" telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru dan organisasi pemuda.

Kembali dari pertemuan dengan pendiri Boys' Brigade, Sir William Alexander Smith, Baden-Powell memutuskan untuk menulis kembali Aids to Scouting agar sesuai dengan pembaca remaja, dan pada tahun 1907 membuat satu perkemahan di Brownsea Island bersama dengan 22 anak lelaki yang berlatar belakang berbeda, untuk menguji sebagian dari idenya. Buku "Scouting for Boys" kemudian diterbitkan pada tahun 1908 dalam 6 jilid.

Kanak-kanak remaja membentuk "Scout Troops" secara spontan dan gerakan Pramuka berdiri tanpa sengaja, pada mulanya pada tingkat nasional, dan kemudian pada tingkat internasional. Gerakan pramuka berkembang seiring dengan Boys' Brigade. Suatu pertemuan untuk semua pramuka diadakan di Crystal Palace di London pada 1908, di mana Baden-Powell menemukan gerakan Pandu Puteri yang pertama. Pandu Puteri kemudian didirikan pada tahun 1910 di bawah pengawasan saudara perempuan Baden-Powell, Agnes Baden-Powell.

Walaupun dia sebenarnya dapat menjadi Panglima Tertinggi, Baden Powell memuutuskan untuk berhenti dari tentara pada tahun 1910 dengan pangkat Letnan Jendral menuruti nasihat Raja Edward VII, yang mengusulkan bahawa ia lebih baik melayani negaranya dengan memajukan gerakan Pramuka.

Pada Januari 1912 Baden-Powell bertemu calon isterinya Olave Soames di atas kapal penumpang (Arcadia) dalam perjalanan ke New York untuk memulai Lawatan Pramuka Dunia. Olave berusia 23, Baden-Powell 55, dan mereka berkongsi tanggal lahir. Mereka bertunangan pada September tahun yang sama dan menjadi sensasi pers, mungkin karena ketenaran Baden-Powell, karena perbedaan usia seperti itu lazim pada saat itu. Untuk menghindari gangguan pihak pers, mereka melangsungkan pernikahan secara rahasia pada 30 Oktober 1912. Dikatakan bahwa Baden-Powell hanya memiliki satu petualangan lain dengan wanita (pertunganannya yang gagal dengan Juliette Magill Kinzie Gordon).

Pramuka Inggris menyumbang satu penny masing-masing dan mereka membelikan Baden-Powel hadiah pernikahan, yaitu sebuah mobil Rolls Royce.

Perang Dunia I dan kejadian-kejadian selanjutnya

Ketika pecah Perang Dunia I pada tahun 1914, Baden-Powell menawarkan dirinya kepada Jabatan Perang. Tiada tanggung jawab diberikan kepada beliau, sebab, seperti yang dikatakan oleh Lord Kitchener: "dia bisa mendapatkan beberapa divisi umum dengan mudah tetapi dia tidak dapat mencari orang yang mampu meneruskan usaha baik Boy Scouts." Kabar angin menyatakan Baden-Powell terkait dalam kegiatan spionase dan dinas rahasia berusaha untuk menggalakkan mitos tersebut.

Baden-Powell dianugerahi gelar Baronet pada tahun 1922, dan bergelar Baron Baden-Powell, dari Gilwell dalam County Essex, pada tahun 1929. Taman Gilwell adalah tempat latihan Pemimpin Pramuka Internasional. Baden-Powell dianugerahi Order of Merit dalam sistem penghormatan Inggris pada tahun 1937, dan dianugerahi 28 gelar lain dari negara-negara asing.

Dalam sajak singkat yang ia tulis, ia menjelaskan bagaimana mengucapkan namanya:

Man, Nation, Maiden
Please call it Baden.
Further, for Powell
Rhyme it with Noël.

Dibawah usaha gigihnya pergerakan Pramuka dunia berkembang. Pada tahun 1922 terdapat lebih dari sejuta pramuka di 32 negara; pada tahun 1939 jumlah pramuka melebihi 3,3 juta orang.

Keluarga Baden-Powell memiliki tiga anak – satu anak laki-laki dan dua perempuan (yang mendapat gelar-gelar kehormatan pada 1929; anak laki-lakinya kemudian menggantikan ayahnya pada 1941:

* Peter, kemudian 2nd Baron Baden-Powell (1913-1962)
* Hon. Heather Baden-Powell (1915-1986)
* Hon. Betty Baden-Powell (1917-2004) yang pada 1936 menikah dengan Gervase Charles Robert Clay (lahir 1912 dan memiliki 3 anak laki-laki dan 1 perempuan)

Tidak lama selepas menikah, Baden-Powell berhadapan dengan masalah kesehatan, dan mengalami beberapa serangan penyakit. Ia menderita sakit kepala terus menerus, yang dianggap dokternya berasal dari gangguan psikosomatis dan dirawat dengan analisa mimpi. Sakit kepala ini berhenti setelah ia tidak lagi tidur dengan Olave dan pindah ke kamar tidur baru di balkon rumahnya. Pada tahun 1934 prostatenya dibuang, dan pada tahun 1939 dia pindah ke sebuah rumah yang dibangunnya di Kenya, negara yang pernah dilawatinya untuk berehat. Dia meninggal dan dimakamkan di Kenya, di Nyeri, dekat Gunung Kenya, pada 8 Januari 1941.

Pada 1938 Royal Academy of Sweden menganugerahkan Lord Baden-Powell dan semua gerakan Pramuka hadiah Nobel Perdamaian untuk tahun 1939. Tapi pada 1939 Royal Academy memutuskan untuk tidak menganugerahkan hadiah untuk tahun itu, karena pecahnya Perang Dunia II.

Pergerakan Pramuka dan Pandu Puteri merayakan 22 Februari sebagai hari B-P, tanggal lahir bersama Robert dan Olave Baden-Powell, untuk memperingati dan meraikan jasa Ketua Pramuka dan Ketua Pandu Puteri Dunia.

Mengenai ketertarikannya pada anak laki-laki

Dua penulis biografi Baden-Powell, Michael Rosenthal dari Columbia University dan Tim Jeal, menganggap bahwa ia adalah homoseksual yang tertekan. Buku Tim Jeal yang diriset selama lebih dari 5 tahun, diterbitkan oleh Yale University Press dan diterima dengan baik oleh New York Times, Washington Post dan penerbitan-penerbitan terkemuka lain.

Selain bukti-bukti lain, Jeal menyebutkan suatu contoh kejadian di bulan November 1919. Ketika mengunjungi Charterhouse, sekolahnya dulu, Baden-Powell tinggal bersama teman lamanya, A. H. Tod, seorang guru lajang dan pemilik rumah yang telah mengambil foto-foto telanjang murid-muridnya sebagai bagian dari kumpulan foto mengenai sekolah. Dalam buku hariannya, Baden-Powell menulis tentang hal ini: "Tinggal dengan Tod. Foto-foto anak laki-laki telanjang dan pohon-pohon yang diambil oleh Tod. Bagus sekali." Dalam surat-surat selanjutnya kepada Tod mengenai memulai gerakan Pramuka di sekolah itu, Baden-Powell menyebut bahwa ia akan segera berkunjung kembali dan menambahkan: "Mungkin saya ingin melihat kembali foto-fotomu yang indah itu."

Foto-foto Tod bertahan sampai tahun 1960-an, ketika mereka dihancurkan mungkin untuk "melindungi reputasi Tod." Namun R. Jenkyns mengatakan bahwa album tersebut mengandung foto-foto anak laki-laki telanjang dalam pose-pose yang, menurut pendapatnya, "dibuat-buat dan artifisial." Tidak ada alasan untuk mencurigai bahwa Tod atau Powell memiliki tujuan buruk, dan foto-foto tersebut dibuat sesuai dengan tradisi pada saat itu mengenai seni yang juga ditampilkan dalam lukisan-lukisan Henry Scott Tuke, foto-foto Baron Wilhelm von Gloeden, dan lain-lain.

Jeal juga menyebutkan bahwa Baden-Powell "...tetap memuji tubuh laki-laki ketika telanjang dan merendahkan tubuh wanita. Di Gilwell park, tempat perkemahan Pramuka di hutan Epping, ia selalu menikmati pemandangan anak-anak laki-laki berenang telanjang, dan kadang-kadang berbincang dengan mereka setelah mereka 'melepas baju mereka.'" (pembicaraan pribadi antara Jeal dan anggota-anggota Pramuka lama).

Walaupun menikmati keindahan anak-anak laki-laki, Baden-Powell tidak diketahui pernah bertindak dalam ketertarikannya dengan anak laki-laki. Sebaliknya, ia sangat teguh berpendapat untuk menekan keinginan seksual, terutama dalam komunikasinya dengan anak-anak laki-laki. Ia memasukkan larangan yang jelas melawan masturbasi dalam panduan-panduan Pramuka awal (sedemikian jelasnya sehingga Cox, penerbitnya, menolak untuk mencetak hal ini sebelum bahasanya diperhalus), dan sampai usia 80-an terus bersurat dengan anggota-anggota Pramuka dan memerintahkan mereka untuk mengendalikan keinginan mereka untuk "merusak diri sendiri." Ia percaya pada pendapat saat itu bahwa hal ini menyebabkan penyakit, kegilaan dan impotensi seksual. Pandangan-pandangannya tidak disetujui oleh semua orang. Dr. F. W. W. Griffin, editor The Scouter, menulis pada 1930 dalam buku untuk Rover Scouts bahwa godaan untuk bermasturbasi adalah "tahapan yang cukup alami dalam perkembangan" dan merujukkan anggota-anggota Pramuka kepada sebuah buku oleh H. Havelock Ellis yang berpendapat bahwa "usaha untuk mencapai hidup tanpa seks adalah kesalahan serius." (Tim Jeal, Baden-Powell: Founder of the Boy Scouts 1989, hal. 93-94)

Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Robert_Baden-Powell
Baca Selengkapnya...

Kata Bijak

Bagikan

*. Pendidikan adalah usaha sadar yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah tingkah laku manusia ke arah yang diinginkan. Pendidikan selalu etis-religius baik dan dijalankan melalui jalur pendidikan sekolah (formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (nonformal).

*. Proses belajar memang dapat berlangsung di luar kedua jalur tersebut di atas, dan sifatnya tidak sengaja (informal) dan tidak selalu etis-religius baik. Dalam hal yang terakhir ini, maka pendidikan tidak sama dengan belajar. Namun jika belajar bersifat etis-religius baik dan dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana, maka belajar sama dengan pendidikan.

(W.P. Napitupulu)

Sumber: http://goens.edublogs.org

Baca Selengkapnya...

Powered by Blogger